Pengungkapan Kartel Ayam Oleh Pemerintah Yang Pastinya Merugikan Konsumen

Gara-gara kasus kartel 12 perusahaan perunggasan di Indonesia, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) bergerak untuk memberikan rekomendasi ke pemerintah agar praktik serupa tidak terulang lagi.

Apa isi rekomendasinya?

Ketua KPPU Syarkawi Rauf mengatakan terdapat sejumlah rekomendasi ke pemerintah terkait praktik kartel 12 perusahaan perunggasan di Indonesia dan bagaimana mengatasi hal tersebut ke depan.

Dia mengatakan, KPPU merekomendasikan kepada Presiden RI untuk melakukan perubahan UU No 41 Tahun 2013 tentang Peternakan dan Kesehatan.

Hal itu seiring dengan putusan KPPU yang menyatakan 12 perusahaan perunggasan secara sah melakukan kartel.

Menurut dia, UU No 41 tahun 2013 berpotensi adanya konglomerasi atau integrasi yang dilakukan perusahaan dari hulu ke hilir.

“Sehingga, nantinya hal ini dapat menjadi perlindungan pada peternak mandiri dan mencegah terjadinya pemusatan ekonomi di industri perunggasan,” ungkapnya, Kamis (13/10/2016).

Apa dampak penerapan UU tersebut? Salah satunya terlihat di beberapa daerah di Indonesia. Di daerah tersebut, para peternak mandiri sulit mendapatkan day old chicken (DOC) dengan kualitas baik (kelas 2).

Sebab, untuk DOC kelas 1 sudah dikuasai oleh perusahaan-perusahaan besar yang memiliki peternakan sendiri.

Hal itu tentu saja merugikan para peternak mandiri, karena DOC kelas 2 memerlukan banyak pengeluaran karna pemeliharan ekstra dari sisi pakan dan vaksin.

Selanjutnya, KPPU juga merekomendasikan kepada Kementerian Pertanian melalui presiden untuk membuat aturan dan regulasi yang jelas soal perunggasan di Indonesia yang sesuai dengan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat.

Rekomendasi ketiga, yakni kepada Kementerian Perdagangan. KPPU merekomendasikan untuk memotong rantai distribusi (off farm) yang panjang di pasar hilir untuk melindungi peternak.

Sebab, harga live bird saat ini terlampau jauh sekitar Rp 40.000 per ekor, padahal di peternak hanya sekitar Rp 16.000 per ekor. “Kalau begitu, harga bisa lebih murah,” tutur Syarkawi.

Terakhir, KPPU menyarankan pemerintah lewat Badan Pusat Stastistik (BPS) untuk membangun sistem informasi atau data mengenai kebutuhan dan konsumsi daging ayam di Indonesia.

Sehingga dapat menjamin keteraediaan daging ayam dalam jumlah cukup dan harga terjangkau bagi masyarakat.

Hati-hati Dengan Penyakit Ayam Flu Burung yang Berbahaya

Sekitar 35 ayam kampung di RW 25, Sermo Tengah, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, DIY,  mendadak sejak akhir pekan lalu. Hasil pemeriksaan petugas pos kesehatan hewan setempat menunjukkan unggas tersebut positif terkena flu burung.

Menurut Widi Hartanto (29), warga setempat, seluruh ayam itu ditemukan di bawah pohon. Diduga  ayam berlangsung malam hari ketika ayam beristirahat di dahan-dahan pohon. Tidak ditemukan luka atau bekas terkaman pemangsa di tubuh unggas itu.

Kejadian pertama berlangsung Sabtu pagi pekan lalu. Delapan ayam milik Bapak Abadi, Ketua RW 25, tiba-tiba saja jatuh dari atas pohon, dan semuanya  kata Widi, Senin (2/11). Jumlah  ayam bertambah di hari Minggu. Sebanyak 15 ekor ayam milik Abadi kembali , begitu pun dengan ayam milik warga lain, yakni Wandi (5 ekor) dan Ny. Semi (5 ekor). Dua ayam kampung lain, yang tidak diketahui pemiliknya.

Warga yang khawatir segera menghubungi pos kesehatan hewan di Kecamatan Kokap. Petugas yang datang Minggu sore segera mengecek kondisi bangkai ayam dengan alat khusus. Petugas juga mengambil sampel cairan dari anus dan liur ayam.

“Dari hasil pemeriksaan itu, seluruh ayam positif terjangkit flu burung, akan tetapi belum diketahui jenis virusnya. Katanya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel cairan,” ujar Abadi.

Seluruh bangkai ayam kemudian dibakar dan dikubur. Warga pun menyemprotkan disinfektan ke kandang-kandang ayam. Sejauh ini, belum ada laporan warga Sermo Tengah yang menunjukkan gejala flu pascabersentuhan dengan unggas. Namun demikian, warga siaga dan siap memeriksakan warga yang sakit ke Puskesmas.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kulon Progo Endang Purwaningrum mengatakan tindakan warga Sermo Tengah dalam menangani kasus flu burung sudah benar. Lebih lanjut, ia mengimbau warga untuk tidak menjual unggas ke luar daerah selama satu bulan ke depan.

“Penjualan unggas hanya akan memperluas persebaran virus flu burung. Kita tidak pernah tahu apakah unggas yang dijual itu benar-benar sehat atau justru sudah terinfeksi virus,” katanya.

Selama 2009, laporan kasus  unggas di Kulon Progo terus turun. Hanya saja, Endang tidak dapat menyebutkan angkanya karena masih direkapitulasi. Ia menyebutkan laporan datang dari masing-masing kecamatan, namun jumlahnya tidak banyak, sekitar 5-10 unggas di setiap kecamatan.

Flu burung sulit diberantas secara tuntas di Kulon Progo karena perilaku warga yang tidak mengandangkan unggas miliknya. Unggas-unggas seperti bebek, ayam, itik, dan ang sa, dibiarkan lepas liar di pekarangan untuk mencari makan. Padahal, unggas yang dilepas berpeluang tinggi menularkan virus flu burung.

“Kami sampai capek mengimbau warga, tapi mereka sulit sekali menurut. Kami sadar, mengubah perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan, sehingga butuh proses panjang,” keluh Endang.

Mengantisipasi penularan virus flu burung ke manusia, seluruh puskesmas di Kulon Progo juga sudah dibekali stok obat tamiflu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Lestaryono, stok obat masih cukup hingga akhir tahun.

Makanan Olahan Nugget Ayam Bukan Makanan Sampah

Tidak semua makanan instan rendah gizi, contohnya nugget ayam. Meskipun tergolong sebagai bahan makanan yang mudah dan cepat dimasak, daging ayam yang diberi bumbu dan pelapis ini sangat kaya protein. Terdapat juga asam amino, lemak, karbohidrat, beberapa jenis vitamin dan mineral.

Salah satu kebutuhan masyarakat perkotaan saat ini adalah tersedianya bahan makanan yang praktis, yaitu yang bersifat ready to cook (siap untuk dimasak) dan ready to eat (siap untuk dimakan). Ready to cook artinya hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menyiapkan dan menghidangkannya. Contoh paling populer dari makanan ready to cook adalah makanan instan, yang umumnya membutuhkan waktu pemasakan 1–3 menit.

Belakangan ini di pasaran juga tersedia makanan ready to cook dalam bentuk beku. Makanan dalam bentuk beku memiliki banyak keunggulan, khususnya terkait dengan upaya penyelamatan nilai gizi dan cita rasa. Zat gizi umumnya mudah rusak selama masa penyimpanan dan distribusi yang dilakukan pada suhu kamar. Teknik pembekuan yang dilakukan pada suhu yang tepat, sangat berguna untuk memperpanjang masa simpan produk dan manfaat zat gizi yang terkandung di dalamnya.

Salah satu bentuk makanan beku yang saat ini sangat digemari masyarakat luas adalah nugget. Umumnya berbentuk pipih, bulat, kotak, atau bentuk lain yang menarik perhatian anak-anak (seperti huruf atau hewan). Produk tersebut tersedia di supermarket atau outlet dalam berbagai merek dagang, kemasan, cita rasa, tekstur, dan harga jual. Harganya sangat bervariasi dari Rp 10.000 hingga 30.000 atau lebih per kemasan.

Pada dasarnya nugget merupakan suatu produk olahan daging berbentuk emulsi, yaitu emulsi minyak di dalam air, seperti halnya produk sosis dan bakso. Nugget dibuat dari daging giling yang diberi bumbu, dicampur bahan pengikat, kemudian dicetak menjadi bentuk tertentu, dikukus, dipotong, dan diselimuti perekat tepung (batter) dan dilumuri tepung roti (breading). Selanjutnya digoreng setengah matang dan dibekukan untuk mempertahankan mutunya selama penyimpanan.

Konsumsi Nugget Ayam Penuh Vitamin Bisa Membuat Sehat Badan

Jenis yang banyak dijual di pasaran adalah nugget ayam (chicken nugget) dan nugget ikan (fish nugget). Hingga saat ini nugget ayam lebih banyak dikonsumsi daripada nugget ikan. Hal tersebut terkait dengan ketersediaan bahan baku dan pola makan masyarakat. Jenis daging yang biasa dikonsumsi masyarakat Indonesia adalah: 56 persen daging unggas (terutama ayam), 23 persen daging sapi, 13 persen daging babi, 5 persen daging kambing, dan 3 persen jenis lainnya.
Rasa nugget jauh lebih gurih dibandingkan daging ayam atau ikan goreng biasa. Hal tersebut disebabkan pengaruh bumbu yang dicampurkan ke dalam adonan sebelum digoreng. Rasa nugget sangat bervariasi, tergantung dari komposisi bahan dan jenis bumbu yang digunakan.

Bahan baku utama yang dibutuhkan dalam pembuatan nugget ayam adalah daging ayam, khususnya yang berasal dari bagian dada tanpa tulang dan kulit (boneless skinless breast) dan bagian paha tanpa tulang dan kulit (boneless skinless leg).

Bahan baku pembantu terdiri dari minyak nabati untuk menggoreng produk supaya matang, fosfat untuk meningkatkan stabilitas emulsi dan daya ikat air dari daging, air (dalam bentuk air es) sebagai media pelarut dalam pencampuran bahan sehingga menjadi lembut, bahan pelapis (coater) yang terdiri dari batter dan breader.

Batter yang digunakan umumnya berupa susu cair (milkwash) yang berfungsi untuk melapisi daging dan sebagai media perekat bagi breader. Sebelum digunakan untuk melapisi daging, milkwash harus diencerkan dengan air hingga mencapai viskositas (kekentalan) tertentu. Breader merupakan bahan pelapis yang berbentuk granula atau butiran-butiran kasar yang digunakan untuk melapisi produk setelah penambahan milkwash. Breader umumnya berupa tepung roti atau panir.

Bumbu (spices) yang ditambahkan pada pembuatan nugget ayam sangat bervariasi antarprodusen, tetapi umumnya terdiri dari garam dan rempah-rempah. Garam dapur berfungsi sebagai pemberi cita rasa dan pengawet produk. Rempah-rempah yang digunakan merupakan campuran dari bawang putih, bawang merah, ketumbar, lada, dan flavor ayam. Semua bahan tersebut sudah dapat diperoleh dalam bentuk bubuk, sehingga sangat praktis dalam penggunaannya.

Daging Ayam Sering Diolah Menjadi Berbagai Makanan Siap Saji

Di tingkat industri, bahan baku nugget umumnya berupa daging ayam beku. Langkah pertama yang harus dikerjakan adalah melakukan proses pelayuan daging (tempering), yaitu dengan cara menaikkan suhu daging dari beku menjadi dingin (chill) di ruang dingin (chill room).

Daging yang telah dilayukan kemudian dicincang dengan alat penggiling (mincer meat) dan diperkecil ukurannya (diperhalus) dengan meat cutter. Hancuran daging selanjutnya dicampur dengan bumbu hingga diperoleh adonan yang tercampur merata. Proses pencampuran tersebut dilakukan pada suhu rendah untuk mempertahankan kualitas adonan.

Adonan yang telah terbentuk kemudian dicetak sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Selanjutnya dilapisi dengan susu cair (milkwash) dengan kekentalan tertentu dan ditaburi (coating) tepung roti (breader) hingga permukaannya tertutup rata.

Nugget kemudian dimasak dalam dua tahap, yaitu penggorengan dan pengovenan. Penggorengan dilakukan dengan merendam produk pada minyak goreng panas selama beberapa saat. Hasilnya berupa nugget yang belum mengalami pematangan penuh. Oleh karena itu, nugget harus dilewatkan ke dalam oven melalui konveyor berjalan. Pada tahap ini, nugget diberi uap jenuh panas sehingga mengalami pematangan penuh. Selain untuk mematangkan produk, proses ini juga berguna untuk membantu memperbaiki tekstur pada produk akhir.

Produk yang telah matang kemudian dibekukan dengan mesin pembeku (freezer) sampai membeku sempurna. Suhu pembekuan memegang peran penting terhadap daya simpan nugget. Nugget beku yang dihasilkan kemudian dikemas dengan kantong plastik jenis polyethylene.