Kisah Tragis Dari Perjalan Team Chapecoense

Pesawat yang ditumpangi skuat Chapecoense mengalami kecelakaan beberapa menit sebelum sampai Medellin, yang sekaligus mengakhiri mimpi mereka untuk merengkuh Copa Sudamericana.

Momen berkumpulnya pemain dan staf Chapecoense yang tengah menunggu di bandara Guarulho Sao Paulo mungkin akan sering diputar selama beberapa waktu ke depan. Sejatinya, klub asal Brasil itu dijadwalkan terbang ke Medellin, Kolombia, di mana mereka akan bertanding melawan tuan rumah Atletico Nacional di leg pertama Copa Sudamericana pada Kamis (1/12) pagi WIB mendatang.

Namun sekarang, impian klub tersebut lenyap dalam sekejap bersama 76 orang yang turut menjadi korban jatuhnya pesawat tepat lima kilometer di luar Medellin, dan wajah-wajah yang terekam ini mungkin akan selamanya diasosiasikan dengan sejarah paling memilukan dalam persepakbolaan Amerika Selatan.

Saat regu penyelamat terus berjuang menembus lebatnya hutan di luar Medellin, yang diperparah dengan visibilitas dan kondisi yang buruk, laporan awal yang keluar sangat simpang siur. Di momen-momen awal diyakini kecelakaan itu terjadi akibat masalah kelistrikan, dan dikabarkan ada tujuh penumpang yang selamat.

Chapeco yang merupakan kota asal klub Brasil itu sebelumnya tidak terbiasa dengan trgaedi. Terletak di jalur pertanian sebelah barat negara bagian Santa Catarina, kota itu lebih dikenal akan produksi pertaniannya ketimbang kekuatan sepakbolanya. Chapecoense sendiri merupakan tim pertama dari wilayah tersebut yang berjuang memperebutkan gelar menyusul pembentukannya pada 1973 silam, dengan mereka meraih trofi Catarinense empat tahun berselang mengalahkan kekuatan asal Florianapolis seperti Figueirense dan Avai.

Pada 2014 lalu, mereka untuk kali pertama masuk dalam jajaran elite kompetisi Brasil, Serie A, dan tahun ini mereka tampil di turnamen level kedua Amerika Selatan – Copa Sudamericana – atau tujuh tahun setelah promosi dari Serie D. Kenaikan seperti itu terbilang luar biasa, namun Chapecoense tidak berhenti sampai di situ.

Perjalanan mereka dimulai dengan meraih kemenangan melawan klub sesama Brasil Cuiaba, namun pertemuan melawan juara tujuh kali Copa Libertadores Independiente tampak sebagai sinyal dari akhir petualangannya. Meski begitu, Chapecoense justru menyulitkan lawannya tersebut selama dua leg yang berakhir imbang tanpa gol, sebelum kemudian kiper Danilo – yang sempat selamat dari kecelakaan namun meninggal dunia di rumah sakit – mengantar timnya menembus perempat-final dengan aksi penyelamatannya di babak adu penalti.

Klub Kolombia Junior kemudian menjadi mangsa mereka berikutnya. Meski kalah 1-0 di Barranquilla, Chapecoense sukses membalikkan skor dan menang 3-1 secara agregat di hadapan pendukungnya sendiri. Dan, setelah pertemuan intens melawan San Lorenzo di semi-final, satu tiket ke partai puncak pada akhirnya mereka amankan berkat keunggulan gol tandang atas wakil Argentina tersebut.

“Jika saya harus meninggal hari ini, saya akan senang,” demikian Caio Junior, pelatih Chapecoense kepada wartawan sebelum timnya terbang menuju Medellin. Pernyataannya tersebut kini berubah kenyataan, dan hal itu tentu terbilang memilukan.

Adapun di balik tragedi terkadang meninggalkan momen untuk merenung. Hal itu dialami penyerang Argentina Alejandro Martinuccio, yang merapat ke Chape di awal musim 2016. Ia merupakan mantan pemain Penarol yang berhadapan dengan Neymar dalam kekalahan final Copa Libertadores 2011 dari Santos, dan ia absen dalam penerbangan tersebut karena terkendala cedera.

Kekecewaan yang ia alami sebelumnya kini berubah menjadi permohonan doa. “Tolong berdoalah untuk rekan-rekan saya,” tulisnya di Twitter saat mengetahui kabar tragis tersebut, dan kini sang pemain butuh perhatian lebih untuk mengobati trauma kehilangannya yang teramat dahsyat.

Adapun Medellin yang menjadi tempat persinggahan Chapecoense memang dikenal berbahaya di dunia penerbangan. Pada 24 Juni 1935, terjadi kecelakaan yang merenggut nyawa penyanyi legendaris tango Carlos Gardel dan 16 orang lainnya. Pada 1967, sebuah pesawat yang membawa skuat Racing Club yang akan berhadapan dengan Independiente Medellin mengalami masalah teknis, yang lantas membuat para penumpang mengkhawatirkan keselamatannya. “Jika kita selamat dari ini, kita akan menjadi juara,” bisik pemain Racing kepada satu sama lain waktu itu, dan mereka benar; kesalahan teknis pesawat yang mereka tumpangi hilang dengan sendirinya, dan mereka keluar sebagai juara sebelum kemudian takluk dari Celtic di Piala Interkontinental.

Namun keberuntungan tidak memihak Chapecoense kali ini. Klub dari kota kecil itu ikut hancur berkeping-keping seiring mereka kehilangan sebagian besar skuat utamanya dan kini menghadapi prospek untuk membangun klub dari nol. Tapi mereka mendapat bantuan moril dari penjuru dunia, termasuk Manchester United dan Torino yang juga pernah melewati tragedi memilukan ini.

Dan pastinya mereka akan kembali. Klub Brasil itu boleh saja hancur beberapa jam sebelum meraih momen terbesar dalam sejarahnya, dan sang underdog kini dihadapkan dengan tugas untuk membangun dari sisa-sisa debu di Medellin. Untuk saat ini, Chapecoense pantas kita doakan, seiring kejadian ini merupakan tragedi paling memilukan dalam persepakbolaan Amerika Selatan yang membuat seluruh dunia berduka.

Nguyen Huu Thang Sangat Khawatir Dengan Cuaca Di Hanoi

Huu Thang menganggap cuaca di Hanoi tidak bersahabat, dan berpotensi membuat pemain sakit.

Pelatih Vietnam Nguyen Huu Thang mengaku lebih mengkhawatirkan cuaca di Hanoi dibandingkan Bogor saat menjalani pertandingan semi-final AFF Suzuki Cup 2016 melawan Indonesia.

Vietnam terlebih dulu dijamu Indonesia di Stadion Pakansari, Bogor, Sabtu (3/12) malam WIB, di laga leg pertama. Empat hari kemudian, leg kedua digelar di Stadion My Dinh. Pada bulan ini, cuaca di Hanoi sangat dingin.

“Bermain di Indonesia di tengah iklim yang panas tidak terlalu membuat saya khawatir, karena pemain sudah terbiasa selama menjalani persiapan dan pertandingan grup. Begitu juga saat uji coba,” ujar Huu Thang dinukil laman Zing.

“Hal yang paling saya khawatirkan justru saat kami bermain di Hanoi. Cuaca dingin dan hujan akan membuat pemain mudah sakit, dan juga berpengaruh terhadap fisik.”

SIMAK JUGA: Penjebol Gawang Indonesia Absen Di Leg Pertama

Sementara itu, mengenai pengganti Truong Dinh Luat untuk mendampingi Que Ngoc Hai di barisan belakang, Huu Thang mengaku masih belum memastikan. Kendati demikian, ia sudah menyiapkan tiga pemain.

“Saya masih mencoba beberapa alternatif, dan kalian akan mengetahuinya saat 3 Desember. Dinh Tien Thanh dan Bui Tien Dung dapat dimaksimalkan. Bahkan Tran Dinh Dong yang biasa menjadi gelandang juga bisa ditempatkan di posisi itu. Kami akan lihat siapa yang paling siap,” tutur Huu Thang dikutip Thanh Nien.

Kutukan yang Selalu Membayangi Group Vietnam Akan Berlanjut

Vietnam selalu mendapatkan hasil mengecewakan di semi-final saat mereka mampu tampil sebagai juara grup

Tak dipungkiri lagi Vietnam merupakan salah satu tim yang kerap difavoritkan menjadi juara setiap kali AFF Suzuki Cup digelar. Mereka pun menjadi langganan semi-final pesta sepakbola Asia Tenggara dua tahunan ini.

Sejak penyelenggaraan pertama pada 1996 hingga sekarang, tercatat Vietnam berhasil menembus semi-final di sembilan edisi. Dari sembilan kesempatan itu, Vietnam mengakhirinya dengan status runner-up pada 1998, dan menjadi juara sepuluh tahun kemudian.

Sukses itu diperoleh ketika Vietnam tidak tampil sebagai juara fase grup. Saat tampil sebagai runner-up 1998, The Golden Star menduduki posisi kedua Grup B di bawah Singapura yang akhirnya keluar sebagai juara. Sedangkan saat menjadi kampiun 2008, Vietnam berada di bawah Thailand yang memuncaki Grup B.

Namun Vietnam justru mendapatkan hasil mengecewakan bila tampil sebagai juara fase grup. Tercatat empat kali Vietnam berhasil memuncaki klasemen, namun tak satu pun yang berakhir manis.

Pada penyelenggaraan 2000, Vietnam menjadi jawara Grup B di atas Malaysia, Singapura, Kamboja, dan Laos. Di semi-final, Vietnam yang saat itu ditangani Alfred Riedl bertemu Indonesia. Dalam pertandingan yang dituntaskan dengan perpanjangan waktu itu, Vietnam ditaklukkan 3-2 setelah Gendut Doni Christiawan mencetak gol menentukan pada menit ke-120.

Dua tahun kemudian, Vietnam kembali merajai fase grup. Kali ini mereka memuncaki Grup A di atas Indonesia, Myanmar, Kamboja, dan Filipina. Vietnam selanjutnya bertemu runner-up Grup B Thailand di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Namun mereka menelan kekalahan telak 4-0 dari Thailand yang akhirnya menjadi juara dengan menaklukkan Indonesia lewat adu penalti.

Ketidakberuntungan Vietnam terus berlanjut di AFF Suzuki Cup 2010. Memuncaki klaseme Grup B, Vietnam berhasil lolos dari lubang jarum untuk mengungguli Filipina, Singapura, dan Myanmar. Di empat besar, Vietnam berhadapan Malaysia. Di leg pertama, Vietnam takluk 2-0, dan hanya bermain imbang tanpa gol saat menjamu Malaysia, sehingga kalah agregat 2-0.

Vietnam pun berharap kutukan mereka di semi-final dengan status juara grup terhenti di 2014. Tampil perkasa tanpa kekalahan lewat dua kemenangan, dan sekali imbang, Vietnam memuncaki klasemen Grup A di atas Filipina, Indonesia, dan Laos.

Harapan itu sempat membumbung tinggi ketika mereka mengalahkan Malaysia 2-1 pada laga leg pertama di Stadion Shah Alam. Namun saat menjamu Malaysia di Stadion My Dinh, Vietnam justru takluk 4-2, sehingga kalah agregat 5-4, dan catatan buruk di semi-final sebagai pemuncak grup tetap berlanjut.

Klub Papan Atas Brasil, Bersedia Meminjamkan Pemainnya Untuk Chapecoense

Direktur dari klub Brasil Coritiba, Corinthians, Santos, Porteuguesa, Sao Paolo, dan juara Serie A Brasil Palmeiras, telah sepakat untuk membantu Chapecoense dengan meminjamkan para pemain mereka secara gratis, dan mengajukan petisi ke Asosiasi Sepakbola Brasil (CBF) untuk membebaskan Chapecoense dari degradasI agar tim tersebut mendapat kesempatan untuk membangun kembali timnya

Chapecoense baru saja kehilangan banyak pemain dan ofisialnya setelah mengalami kecelakaan pesawat, Senin (27/11) malam, dalam perjalanannya ke Kolombia untuk menghadapi Atletico Nacional di leg pertama final Copa Sudamericana.

Pihak pemerintah Brasil menyatakan kecelakaan tersebut telah mengakibatkan 71 orang meninggal dunia, yang terdiri dari pemain, jurnalis, dan ofisial tim. Sementara enam penumpang selamat dari pesawat yang jatuh di wilayah bukit Cerro Gordo, Kolombia.

Klub-klub papan atas Brasil tersebut kemudian mempublikasikan pernyataan untuk membantu Chapecoense, berikut isi pernyataan yang diumumkan pada Selasa (29/11), seperti dikutip dari Goal Internasional:

“Dengan ini klub mengumumkan langkah-langkah solidaritas kepada Chapecoense, antara lain:

“(I) Meminjamkan pemain secara gratis untuk musim 2017;”

“(II) Meminta secara resmi kepada asosiasi sepakbola Brasil agar Chapecoense terbebas dari degradasi ke Serie B Brasil untuk tiga musim ke depan. Jika Chapecoense finis di empat terbawah, tim di peringkat 16 yang akan terdegradasi.”

“Ini adalah bentuk minimal dari solidaritas yang bisa kami sampaikan saat ini, tapi itu berdasarkan pada tujuan yang tulus untuk membangun kembali klub sepakbola Brasil yang sedang mengalami kehilangan.”

Hingga artikel ini ditulis pihak CBF belum memberikan respon atas permohonan tersebut. Final ajang Copa Sudamericana yang seharusnya Chapecoense lakoni Rabu (30/11) dibatalkan. Selain itu dalam beberapa pekan ke depan laga-laga di kompetisi sepakbola Brasil akan ditunda.

Gasperini, Atlanta Mirip Dengan Leicester City

Pelatih Atalanta Gian Piero Gasperini menyatakan performa bagus timnya belakangan ini membuat timnya layak jika ingin dibandingkan dengan juara Liga Primer Inggris musim lalu Leicester City.

Atalanta tampil spektakuler dalam beberapa pekan terakhir, klub berjuluk Orobici tersebut tak terkalahkan dalam sembilan laga terakhirnya di Serie A Italia, mereka hanya mencatatkan satu hasil seri dan selalu menang di delapan laga lainnya.

Pencapaian gemilang itu membuat Atalanta menempati peringkat lima klasemen Serie A. Mereka mampu mengumpulkan 28 poin dalam 14 laga, sama dengan poin Lazio di peringkat empat, mereka hanya tertinggal satu poin dari AS Roma di peringkat kedua, dan lima poin dari Juventus yang berada di puncak klasemen.

“Jika anda melihat performa kami dalam dua setengah bulan terakhir, saya bisa melihat perbandingan itu. Setelah itu saya tidak tahu,” ujar Gasperini kepada Radio Sportiva ketika timnya disebut sebagai Leicester-nya Italia.

“Anda bisa bertaruh beberapa euro untuk kami, tidak ada salahnya,” tambah mantan pelatih Inter itu.

Pelatih asal Italia Claudio Ranieri mampu membuat kejutan besar dalam sejarah olahraga ketika sukses membawa Leicester menjuarai Liga Primer Inggris musim lalu meski harus bersaing dengan klub-klub besar yang memiliki kekuatan finansial jauh di atas mereka.

Beberapa fans mendapattkan keuntungan besar setelah mempertaruhkan sedikit uangnya di bursa taruhan untuk The Foxes di awal musim dengan peluang menang 5.000 berbanding 1.

“Di Italia akan sangat sulit dan mustahil mengulang pencapaian Ranieri. Untuk saat ini kami senang dengan pencapaian kami. Kami akan berusaha untuk terus meniru Leicester selama mungkin,” ujar pelatih berusia 58 tahun tersebut.