Hati-hati Dengan Penyakit Ayam Flu Burung yang Berbahaya

Sekitar 35 ayam kampung di RW 25, Sermo Tengah, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, DIY,  mendadak sejak akhir pekan lalu. Hasil pemeriksaan petugas pos kesehatan hewan setempat menunjukkan unggas tersebut positif terkena flu burung.

Menurut Widi Hartanto (29), warga setempat, seluruh ayam itu ditemukan di bawah pohon. Diduga  ayam berlangsung malam hari ketika ayam beristirahat di dahan-dahan pohon. Tidak ditemukan luka atau bekas terkaman pemangsa di tubuh unggas itu.

Kejadian pertama berlangsung Sabtu pagi pekan lalu. Delapan ayam milik Bapak Abadi, Ketua RW 25, tiba-tiba saja jatuh dari atas pohon, dan semuanya  kata Widi, Senin (2/11). Jumlah  ayam bertambah di hari Minggu. Sebanyak 15 ekor ayam milik Abadi kembali , begitu pun dengan ayam milik warga lain, yakni Wandi (5 ekor) dan Ny. Semi (5 ekor). Dua ayam kampung lain, yang tidak diketahui pemiliknya.

Warga yang khawatir segera menghubungi pos kesehatan hewan di Kecamatan Kokap. Petugas yang datang Minggu sore segera mengecek kondisi bangkai ayam dengan alat khusus. Petugas juga mengambil sampel cairan dari anus dan liur ayam.

“Dari hasil pemeriksaan itu, seluruh ayam positif terjangkit flu burung, akan tetapi belum diketahui jenis virusnya. Katanya masih menunggu hasil pemeriksaan sampel cairan,” ujar Abadi.

Seluruh bangkai ayam kemudian dibakar dan dikubur. Warga pun menyemprotkan disinfektan ke kandang-kandang ayam. Sejauh ini, belum ada laporan warga Sermo Tengah yang menunjukkan gejala flu pascabersentuhan dengan unggas. Namun demikian, warga siaga dan siap memeriksakan warga yang sakit ke Puskesmas.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan Kulon Progo Endang Purwaningrum mengatakan tindakan warga Sermo Tengah dalam menangani kasus flu burung sudah benar. Lebih lanjut, ia mengimbau warga untuk tidak menjual unggas ke luar daerah selama satu bulan ke depan.

“Penjualan unggas hanya akan memperluas persebaran virus flu burung. Kita tidak pernah tahu apakah unggas yang dijual itu benar-benar sehat atau justru sudah terinfeksi virus,” katanya.

Selama 2009, laporan kasus  unggas di Kulon Progo terus turun. Hanya saja, Endang tidak dapat menyebutkan angkanya karena masih direkapitulasi. Ia menyebutkan laporan datang dari masing-masing kecamatan, namun jumlahnya tidak banyak, sekitar 5-10 unggas di setiap kecamatan.

Flu burung sulit diberantas secara tuntas di Kulon Progo karena perilaku warga yang tidak mengandangkan unggas miliknya. Unggas-unggas seperti bebek, ayam, itik, dan ang sa, dibiarkan lepas liar di pekarangan untuk mencari makan. Padahal, unggas yang dilepas berpeluang tinggi menularkan virus flu burung.

“Kami sampai capek mengimbau warga, tapi mereka sulit sekali menurut. Kami sadar, mengubah perilaku tidak semudah membalikkan telapak tangan, sehingga butuh proses panjang,” keluh Endang.

Mengantisipasi penularan virus flu burung ke manusia, seluruh puskesmas di Kulon Progo juga sudah dibekali stok obat tamiflu. Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Lestaryono, stok obat masih cukup hingga akhir tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *